Allah berfirman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Rasul bersabda ketika seseorang meninggal hanya ada tiga bekal amal yang akan menolongnya , salah satunya adalah anak yang saleh. Penggalan ayat suci Alquran dan hadis di atas memberi petunjuk pada kita dan arti tanggung jawab kepada keluarga.
Duduklah sekejap di atas tikar, renungan ini sambil melihat anak kita yang sedang bermain petak umpet di halaman rumah. Lihat betapa ceria dia, karena ia masih belia. Di pundaknya belum ada amanah, tapi sejak lahir seorang anak menjadi amanah suci bagi keluarganya.
Sekarang tanyakan pada hati Anda yang paling dalam, apa keinginan Anda paling utama terhadap perkembangan anak Anda yang sedang bermain itu? Saya harap Anda tidak memberikan jawaban berbeda yang akan kami tulis. Anak saleh jawabannya, bukan? Hampir semua orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak saleh/saleha. Jarang yang terdengar dari doa seorang ibu atau ayah yang mengharapkan anaknya menjadi jenderal, artis, atau pengacara.
Ungkapan tersebut adalah bahasa spiritual yang keluar otomatis dari nurani orang tua. Kata itu menjadi doa bagi setiap orang tua. Namun kadang kata tersebut hanya tinggal doa karena tidak diikuti dengan tindakan yang nyata. Saleh individual berarti ia memiliki pribadi sebagai seorang hamba yang taat ibadahnya. Saleh sosial berarti ia memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dalam proses pembelajaran sehari-hari di rumah orang tua menjadi sentra mode, jika orang tua ingin anak menjadi sholeh, maka orang tua harus bisa memberi contoh keshalehan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin anaknya menjadi seorang yang peduli terhadap sesama, Orang tua kudu memiliki kecerdasan sosial tersebut lebih dulu. Bukankah pendidikan terbaik melalui tauladan yang baik. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bisa menjadi uswah pada anak dan cucu-cucu kita.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »


Pesta demokrasi telah usai,