MENJADI USWAH

palestina-girlAllah berfirman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Rasul bersabda ketika seseorang meninggal hanya ada tiga bekal amal yang akan menolongnya , salah satunya adalah anak yang saleh. Penggalan ayat suci Alquran dan hadis di atas memberi petunjuk pada kita dan arti tanggung jawab kepada keluarga.

Duduklah sekejap di atas tikar, renungan ini sambil melihat anak kita yang sedang bermain petak umpet di halaman rumah. Lihat betapa ceria dia, karena ia masih belia. Di pundaknya belum ada amanah, tapi sejak lahir seorang anak menjadi amanah suci bagi keluarganya.

Sekarang tanyakan pada hati Anda yang paling dalam, apa keinginan Anda paling utama terhadap perkembangan anak Anda yang sedang bermain itu? Saya harap Anda tidak memberikan jawaban berbeda yang akan kami tulis. Anak saleh jawabannya, bukan? Hampir semua orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak saleh/saleha. Jarang yang terdengar dari doa seorang ibu atau ayah yang mengharapkan anaknya menjadi jenderal, artis, atau pengacara.

Ungkapan tersebut adalah bahasa spiritual yang keluar otomatis dari nurani orang tua. Kata itu menjadi doa bagi setiap orang tua. Namun kadang kata tersebut hanya tinggal doa karena tidak diikuti dengan tindakan yang nyata. Saleh individual berarti ia memiliki pribadi sebagai seorang hamba yang taat ibadahnya. Saleh sosial berarti ia memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dalam proses pembelajaran sehari-hari di rumah orang tua menjadi sentra mode, jika orang tua ingin anak menjadi sholeh, maka orang tua harus bisa memberi contoh keshalehan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin anaknya menjadi seorang yang peduli terhadap sesama, Orang tua kudu memiliki kecerdasan sosial tersebut lebih dulu. Bukankah pendidikan terbaik melalui tauladan yang baik. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bisa menjadi uswah pada anak dan cucu-cucu kita.

Sudah Berkahkah Kita?

jus-jerukPesta demokrasi telah usai, hasilnya pun segera akan kita ketahui, siapa yang akan melenggang ke Senayan dan siapa yang akan tetap duduk di kursi kegagalan, karena tidak terpilih untuk mewakili rakyat di DPR. Proses politik terasa begitu mahal di tengah himpitan hidup yang begitu sulit sekarang ini. Politik memang begitu rumit di negeri ini, sejak kemerdekaan hingga sekarang. Kancah percaturan politik belum membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang sejahtera, damai, dan berkah.

Etape dan periode perpolitikan, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, memberikan kesan yang sama saja terhadap kehidupan masyarakat. Hanya saja masing-masing memiliki klaim keberhasilan sendiri-sendiri. Bukan politik tidak penting , tapi yang lebih penting bagaimana masyarakat bisa hidup di negeri ini dengan makmur, damai, dan sejahtera.

Teringat ungkapan guru ngaji yang tiada henti-hentinya mendoakan kami agar mendapat berkah dalam hidup ini. Berkah itu artinya karunia Allah yang diberikan pada kita dan bertambah baik, baik, dan baik. Jika Anda memiliki sebuah kendaraan, apakah keberadaannya membuat kehidupan keluarga menjadi baik atau tidak. Jika tidak berarti tidak mendapat berkah dari Allah SWT.

Dengan rahmat Allah SWT bangsa Indomesia merdeka, apakah dengan karunia Allah tersebut kehidupan bangsa kita menjadi semakin baik? Memberikan berkahkah nusantara ini untuk rakyatnya? Jawabannya ada dalam realitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dengan mata kepala kita bisa saksikan jawaban tersebut. Andalah yang harus menilai dan memiliki jawaban itu.

Daripada lelah menungu nusantara ini menjadi negeri yang berberkah, marilah kita mulai dalam scope kecil keluarga kita. Sudah berkahkah hidup keluarga kita? Berapa banyak orang yang telah menerima manfaat keberadaan kita ? Sudah berapa banyak tambahan kebaikan yang memberi efek langsung pada kualitas hidup kita? Jika semua karunia kesehatan, harta, waktu, dan keimanan belum bisa menjadi payung keberkahan untuk orang di sekitar kita, maka sepertinya kita masih jauh dari keberkahan.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS: Al A’raf: 96)